skip to main | skip to sidebar

JOIN..!!

Dwita Rachmayani | Create Your Badge
Dwita Rachmayani

Me..My Self..and I

Foto Saya
goresan pelangi
Funny..!! Cheerfull and Silly..!! Knowledgeable..!! Spontaneous and Creative..!! Modest..!! Optimistic..!! Clever..!!
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Posting..!!

  • ▼ 2009 (14)
    • ► Juni (5)
    • ► Mei (5)
    • ▼ April (3)
      • GORESAN 3
      • GORESAN 2
      • GORESAN 1
    • ► Februari (1)

Follow Me..!!

D'sign

D'sign

Buddy

Buddy

Chombina-She

Chombina-She

Goresan Pelangi

Rabu, 29 April 2009

GORESAN 3


Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.

Dengan adanya kebohongan ini, maka kita dapat mendalami makna yang sesungguhnya dari kebohongan yang berada dalam cerita berikut ini. Hal ini dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :

"Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :

"Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.

" Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum.

Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka.

Ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut.

Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku :

"Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :

"Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih Ibu ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?

Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar (bagi yang punya pacar), kita pasti lebih peduli dengan pacar. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita...??

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi...

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,
lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Diposting oleh goresan pelangi di 07.17 0 komentar
Label: "diangkat dari sebuah milis"

GORESAN 2


Lepas Senyumu

Setelah sekian lama aku memendam perasaan yang sangat memuakan, hal ini sangat menjijikan bila aku muntahkan, tetapi aku akan lega untuk mendapatkan sebuah senyuman termanis dan terikhlas dari bibirku.
Huuuffff....!! kata itu yang aku hembuskan lewat nafas pelangiku, dengan harapan kedepan akan menjadi lebih baik untuk hati dan hidupku.


Aku lega dan senang, ketika aku bisa menjadi wanita yang memiliki pendirian kuat serta banyak opini yang mengatakan bahwa mereka salut pada kegigihan dan pendirianku. Bukan maksud untuk sombong apalagi menjadi seorang pembangkang dengan adanya persepsi ini, yang jelas aku bersikap seperti itu karena aku tahu apa yang aku butuhkan saat ini, esok dan nanti.

Ketika aku berada dalam posisi yang mengantung hati, nurani ku berkata bahwa aku harus bisa menjalani dan segera mengambil keputusan serta langkah yang tegas untuk menghasilkan suatu senyuman bahagia. Tentu aku akan berusaha dan terus bangkit untuk mendapatkan senyuman termanis itu. Karena aku ingin menjadikan senyuman itu sebagai tanda bahwa aku menang dalam peperangan dingin di balik jeruji yang tajam. Sungguh sangat sulit untuk memenangkan pertempuran tersebut, tapi dengan adanya dorongan dan semangat dari Sang Kuasa, maka aku terus bergerak dan pantang untuk menyerah.


Deskripsi percikan hal di atas: Saat aku dipertemukan dengan seseorang yang sangat baru di dalam kehidupannku, sejak saat itu aku pun menjadi wanita yang lupa ingatan akan “siapa diriku sebenarnya”. Aku tidak tahu apakah orang baru ini akan membuatku lebih baik atau malah membuat ku menjadi lebih buruk? Semua pertanyaan itu selalu aku pantau dan aku terus mencari jawabannya.

Seiring waktu berjalan aku terus mencari jawaban tersebut, tiba-tiba kata cinta terucap dari mulutnya, terkaget aku medengarnya. Secepat itukah dia mengenal diriku? Atau ia hanya ingin mempermainkan perasaan dan kehidupan ku? Sungguh aku tidak ingin berburuk sangka terlebih dahulu.

Dengan rasa keingintahuan yang mendera jiwaku, aku menyanggupi rasa cintanya itu dengan memberikan harapan palsu untuknya. Mencetuskan komitmen yang telah dibuat dan telah disepakati bersama, aku pun menjalani dan terus mengikuti permainan yang ia mulai dari detik ini. Detik pertama dia menunjukan rasa sayang dan cintanya, seolah-olah tulus mencintaiku dan menginginkn ku sebagai kekasih sejatinya. Aarrggghhh, rayuan gombal itu sering membuat ku menjadi tambah pintar menjebloskan orang bodoh kedalam jeruji hati.

Detik berikutnya setelah dua bulan berjalan, namun tetap saja hambar dan tiada rasa cinta yang tulus diberikan kepadaku, yang aku dengar dan aku rasakan hanya kalimat-kalimat manis yang keluar dari mulut serigala. Sungguh itu tidak memberikan rasa percaya untuk ku kalau dia mencintaiku. Oh Tuhan, berikan jawaban itu secepatnya. Mungkin dan aku yakin kalau Tuhan mendengar kata-kata ku, sehingga aku dapat merasakan dan melihat bahwa dia tidak layak dan tidak pantas untuk mencintaiku, karena memang cinta yang diberikan untukku adalah palsu.

Aku menyadari hal ini setelah sikap dan perilaku dia yang sungguh menyebalkan dan terasa arogan. Dia sering memperlakukan aku seolah-olah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya lantas ia akan menuruti pecutan dari sang pembajak. Aku merasa dia telah pemperdayakanku seakan dia mengancam ku secara di sengaja, aku selalu harus menuruti dan meng”iya”kan apa yang ia inginkan (bukan dalam konotasi “biru”), apakah hal ini layak dijadikan sebuah alasan untuk suatu pengorbanan cinta? Menurutku ini adalah pembodohan cinta, apabila aku sendiri menuruti kemauannya. Oh please GOD, dia tidak bisa seenaknya memperdayakan aku seperti itu.

Pemberontakannlah yang aku pilih, karena aku merasa bahwa aku masih punya harga diri yang sangat mulia dibandingkan cinta nya yang menurutku itu semua palsu. Sungguh sangat bodohnya aku ini, secepat itu aku mengambil keptusan yang diluar akal sehat ku. Sungguh sangat bodohnya aku, mempercayai dengan gampang orang yang baru aku kenal. Memang ini salahku, dan aku akan tanggung semua resiko tersebut.

Akhirnya, aku pun menyadari bahwa hal ini harus dituntaskan, karena hati, perasaan serta harga diri ini menuntut aku untuk menjadi lebih berani mengungkapkan isi hati walaupun aku tidak menganggap cinta ia pantas dan layak untuk ku. Tuhan selalu ada buatku.

“bicaralah dengan perasaan mu..!!”
“tolaklah logika bodohmu..!!”
Diposting oleh goresan pelangi di 05.34 0 komentar
Label: "seorang wanita yang terbual" -ddwita jelita GP2

GORESAN 1


Isak tangis yang tak terbendung..!!


Suara adzan berkumandang sangat nikmat didengar,

bagaikan malaikat yang menyanyi di atas surga.

Sujudku akan ku persembahkan padamu,

doaku tolong engkau kabulkan YA ALLAH..!! Amin.


Doaku selalu untuk mu suamiku.

Tetes air mata sering membasahi sajadah ku.

Di kala aku bedoa, engkau pasti ada didekatku.

Walau kau jauh tapi aku selalu menantimu.


Selamatkan aku dari musibah ini.

Sadarkanlah aku dan tetap mendekap kepada-Mu.

Aku tak mau jauh darimu.

Karena engkaulah pengaduanku.


Aku selalu berdoa untuk kehidupan keluarga ku yang hampir punah. Tiga malaikat kecil ku selalu memberiku semangat dan menahan aku untuk menangis walaupun hati ku bagai teriris-iris. Terima kasih sayang, ibu akan selalu menjaga kalian.

Diposting oleh goresan pelangi di 05.17 0 komentar
Label: (diterbitkan untuk seorang ibu -ddwita jelita GP1)
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates